FAKULTAS BAHASA DAN SENI INFO FAKULTAS

FBS Unimed Perkuat Kurikulum Berbasis HOTS

previous arrow
next arrow
Slider

 

Medan (Unimed) – Fakultas Bahasa dan Seni mengadakan Forum Discussion Group Revitalisasi Kurikulum KKNI berbasis High Thinking Order Skills (HOTS) di Aula FBS Unimed (4/6). FGD tersebut dihadiri oleh Rektor Unimed, Dekan FBS, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, Kajur, Kaprodi, dan dosen se-lingkungan FBS.

Dekan FBS Dr. Isda Pramuniati, M.Hum beserta Wakil Dekan tampil bersama Rektor dalam paparan FGD tersebut. Pada awal kegiatan, Dekan FBS Dr. Isda Pramuniati, M.Hum., memaparkan dan menjelaskan berbagai peta kognitif, afektif, dan psikomotorik dari setiap jurusan dan prodi. “Setelah mengikuti FGD yang disampaikan oleh Rektor, diharapkan agar para dosen dapat mengembangkan dan merevitalisasi kurikulum di prodi masing-masing, sehingga memiliki kecakapan berpikir tingkat tinggi.”

Pada FGD tersebut, Rektor Unimed Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. mengatakan isu strategis Indonesia adalah rendahnya skor TIMSS, PISA dan PIRLS, rendahnya inovasi, HaKi/Paten kebanyakan dari kita memilih menjadi importir daripada eksportir, produktivitas nasional dan individu kurang memadai, kualitas berdemokrasi, hidup berbangsa dan bernegara sangat rendah dan kemiskinan, kebodohan, kesehatan dan ketertinggalan peradaban masih tertinggal. Untuk membangun Indonesia menjadi maju dibutuhkan kecakapan berpikir tingkat tinggi.

Lanjutnya, “Lulusan Universitas Negeri Medan harus memiliki kecakapan berpikir tingkat tinggi atau HOTS untuk dapat berdaya saing pada revolusi industri 4.0. maka jurusan dan prodi melalui dosen harus berperan maksimal sebagai ujung tombak keberhasilan. Mereka harus memiliki kompetensi berbahasa, sains, teknologi IT, dan juga meneliti.”

“melalui penguatan kurikulum KKNI berbasis HOTS ini kita berharap mampu menghantarkan lulusan yang cakap dn sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Guru itu tidak bisa digantikan dengan teknologi, tapi guru harus menguasai teknologi, guru yang tidak paham dengan teknologi, guru lainlah yang akan menggantikannya. Sungguh proyek terbesar di dunia ini adalah bernalar, tutup Prof. Syawal. (Humas Unimed)